WANADRI: Kehangatan di Tengah Salju Abadi

 

“Kami di sini bekerja, Bapa.”

WANADRI pernah hadir 1991 silam, menginjakkan kaki pertama

 kali di Pegunungan Bintang untuk melakukan ekspedisi pendakian ke Puncak

 Mandala. Namun kata ekspedisi terlalu rumit dipahami masyarakat lokal. Maka, Kang Edi Sumarna, Komandan Komunikasi dalam tim ekspedisi, menggantikan kata ekspedisi dengan ‘bekerja’, karena sama seperti bekerja, ekspedisi mengerahkan kemampuan yang kita miliki untuk mendapatkan sesuatu.

“Jadi, Bapa dibayar berapa buat naik gunung?”

1991, WANADRI pertama kalinya melangsungkan ekspedisi ke Pegunungan Bintang di provinsi yang saat itu masih bernama Irian. Ekspedisi yang dilakukan oleh Angkatan Topan Rawa – Brugmansia berkolaborasi dengan Persatuan Pendaki Gunung Angkatan Darat (PPGAD) terdiri dari empat kegiatan sekaligus: ekspedisi pendakian ke Puncak Mandala (4.730mdpl), direct climbing sisi utara Cartensz Pyramide, marathon lima puncak di Pegunungan Sudirman, serta pengarungan Sungai Van Der Wall dengan hilir di Sungai Mamberamo.

Selalu, dalam setiap ekspedisi, WANADRI mencari tempat-tempat yang belum pernah dijelajah atau minim informasi. Puncak Mandala sendiri saat itu baru dijajaki oleh tim ekspedisi dari Mandala pada 1959. WANADRI kemudian menjadi tim Indonesia pertama yang meletakkan bendera Indonesia di puncaknya. Menjangkau wilayah minim informasi tentu penuh dengan tantangan. Mulai dari tidak adanya peta yang bisa menjadi pegangan karena skalanya terlalu besar, kesulitan menentukan titik awal pendakian, hingga perijinan yang sulit karena wilayah tersebut masih menjadi wilayah konflik.

“Saya tidak melihat sejauh mana dan setinggi apa Puncak Mandala itu. Yang

jauh lebih penting adalah proses ketika saya menuju ke sana. Banyak cerita, banyak pembelajaran, yang bisa saya dapatkan dari masyarakat. Itulah yang disebut kearifan lokal,” Kang Edi Sumarna tak pernah luput menceritakan pengalamannya yang masih membekas berpuluh-puluh tahun setelah ekspedisi itu selesai.

Meskipun sudah mendatangkan tim pendahulu di bawah pimpinan Simbarjadi, tim ekspedisi pendakian Puncak Mandala meluangkan banyak waktu untuk membaur dan mencoba menjadi bagian dari masyarakat. Bagaimanapun, kehidupan mereka selama ekspedisi bergantung pada kepiawaian dan penguasaan masyarakat tentang alam dan adat istiadat setempat. Sebanyak 40 orang masyarakat lokal menjadi bagian dari tim ekspedisi. Bersama merekalah, tim ekspedisi berbagi kehangatan api unggun, kopi, makanan. Bahkan saat sepuluh dari mereka ikut serta ke ketinggian 4.000 m, tim ekspedisi berbagi pakaian untuk mengatasi dinginnya salju dan saling memeluk dalam sleeping bag agar tidak mati kedinginan.

“Bapa, ada apa?” Pak Guru Leo mendekati Kang Edi Sumarna yang baru saja menerima kabar dari alat komunikasi yang dipegangnya. Selalu, setiap menerima kabar terbaru di radio, Pak Guru Leo, salah seorang warga lokal di tim pendaki, bersama yang lainnya duduk berkerumun untuk mendengarkan dan menerima limpahan baterai untuk disimpan. Kali itu, Kang Edi Sumarna memberikan kabar buruk. “Teman kami yang bekerja di sungai mengalami kecelakaan dan mati,”

Setelahnya, Pak Guru Leo duduk berkerumun dengan teman-temannya dan berdiskusi dalam bahasa lokal. Tak lama, Pak Guru Leo mendatangi Kang Edi dan tim ekspedisi pendakian. “Bapa, kami sudah berbicara. Kalau nanti Bapa-Bapa mati, kami juga harus ikut mati.”

Sedekat itu hubungan satu sama lain. Sejauh itu mereka saling mempercayai satu sama lain. Ini yang tidak terukur dengan tingginya Puncak Mandala sekalipun.

 

Indonesia Mengajar: Melunasi Janji

16 Agustus 2015. Tiga nama yang tersiarkan di berita menimbulkan kepanikan. Tiga nama officer Indonesia Mengajar, salah satunya Ketua Yayasan Hikmat Hardono, diduga menjadi korban dalam kecelakaan pesawat Jayapura – Oksibil, ibukota Pegunungan Bintang, Papua.

Sontak, lingkaran relawan Indonesia Mengajar menghubungi pihak officer untuk mengklarifikasi kebenarannya. Kebetulan, Pak Hikmat dan dua officer Indonesia Mengajar itu batal berangkat karena kehabisan tiket dari Jakarta-Jayapura.

15 Agustus 2015. Salah satu officer Indonesia Mengajar bertemu dengan Kepala Dinas Pendidikan Pegunungan Bintang di Jakarta untuk membahas rencana asesmen calon lokasi penempatan Pengajar Muda angkatan pertama. Kami bersepakat akan melanjutkan pertemuan langsung di Pegunungan Bintang, sekaligus mengikuti . Namun Tuhan menakdirkan lain. Bapak Kepala Dinas Pendidikan waktu itu menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat. Pertemuan singkat itu menyisakan janji: meneruskan ikhtiar memajukan pendidikan di ujung timur Indonesia.

Pada 2015, Indonesia Mengajar pertama kali melepas 8 orang Pengajar Muda ke wilayah Pegunungan Bintang. Hingga 2018, tiga angkatan Pengajar Muda telah berinteraksi secara intensif dalam kesehariannya, bersama masyarakat di enam desa Kabupaten Pegunungan Bintang. Mereka, bersama anak muda dan guru setempat, telah menginisiasi gerakan-gerakan pendidikan yang menandai antusiasme masyarakat untuk terus mengembangkan diri.

Guru Jelajah, secara harafiah kegiatan menjelajah kampung-kampung penempatan Pengajar Muda bersama pegawai pemerintahan, guru, anak muda, untuk mengajar anak-anak di pelosok Pegunungan Bintang. Karnaval Anak Papua, memberikan kesempatan kepada anak-anak di pelosok untuk hadir ke ibukota kabupaten, berkompetisi, dan menunjukkan prestasi mereka, melalui kegiatan yang dipersiapkan bersama antara pemerintah, komunitas, dan Pengajar Muda. Terlihat sederhana, namun kolaborasi dan interaksi ini membuat kami percaya, masyarakat Pegunungan Bintang punya misi yang sama untuk memajukan pendidikan di daerah mereka.

2017, Hikmat Hardhono, Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar untuk kedua kalinya hadir di Pegunungan Bintang. Kali itu, ia bertemu langsung dengan Pak Guru Leo, satu dari 40 masyarakat lokal yang menjadi tim pendakian ke Puncak Mandala.

Pak Guru Leo, yang kini menjadi Kepala Sekolah, masih bergulat di bidang pendidikan sekian puluh tahun lamanya, mengisahkan kembali perjalanannya menuju Puncak Mandala.

Sama seperti penjelajahan yang kenangannya terus membekas, demikian juga pendidikan, yang dampaknya akan terus dirasakan oleh masyarakat Pegunungan Bintang. Benang merah keduanya? Baik penjelajahan yang dilakukan WANADRI maupun gerakan pendidikan yang dilakukan Indonesia Mengajar, menghadirkan dan menginteraksikan masyarakat pendatang dan masyarakat Pegunungan Bintang.

Interaksi dan kehadiran, itulah yang kami kolaborasikan dan wujudkan dalam Festival Puncak Papua.

Rangkaian Program

Pendakian Puncak Mandala dan Puncak Yamin

Relawan pendaki terpilih akan melakukan pendakian menuju kedua titik tertinggi di Kab. Pegunungan Bintang dengan misi menggerakan pendidikan di segala penjuru tanah air.

Live-In

Relawan terpilih akan tinggal bersama warga di desa penempatan Pengajar Muda. Relawan akan mengerjakan proyek sosial yang dapat membantu kebutuhan warga Kab. Pegunungan Bintang. Ayo ikut terlibat di kegiatan Live in (Link)

Festival Budaya (Oksibil Papua dan Jakarta)

Acara puncak yang ditujukan pada pemangku kepentingan dan masyarakat di Papua, yang mengenalkan gerakan pendidikan kepada masyarakat Indonesia secara luas. Mari terlibat bersama dalam Festival ini (Link)

Siapa saja yang Terlibat

Pendaki, Relawan, pemangku kepentingan pendidikan, perusahaan, Media, dan orang-orang keren seperti anda

Motivasi

Indonesia Mengajar dan WANADRI sama-sama memiliki pengalaman bekerja di Pegunungan Bintang. Indonesia Mengajar telah mengirimkan 3 angkatan Pengajar Muda di kabupaten Pegunungan Bintang, sedangkan WANADRI adalah organisasi pencinta alam yang berhasil mengirimkan tim ekspedisi dari Indonesia yang pertama mencapai puncak Gunung Mandala.

Festival Puncak Papua menjadi akan wadah bagi kamu yang mempunyai semangat pendidikan dan ingin pergi bertualang untuk ikut serta memajukan pendidikan di Indonesia, khususnya di tanah Papua.

Festival Puncak Papua membuka akses untuk pendidikan dan wisata di pegunungan Bintang, Papua.  Dari sisi Masyarakat lokal, terutama anak-anak, semakin terinspirasi dan semangat belajar untuk meraih cita-cita karena bertemu dengan banyak petualang dari berbagai macam latar profesi

Dampak

Festival Puncak Papua membuka akses untuk pendidikan dan wisata di pegunungan Bintang, Papua.  Dari sisi Masyarakat lokal, terutama anak-anak, semakin terinspirasi dan semangat belajar untuk meraih cita-cita karena bertemu dengan banyak petualang dari berbagai macam latar profesi.

Festival Puncak Papua berfokus untuk memberikan dampak pendidikan di sekitar Kabupaten Pegunungan Bintang

  1. Membangkitkan kepedulian terhadap proses pendidikan di Indonesia.
  2. Memberi semangat kepada pelajar dan pemangku kepentingan pendidikan di daerah.
  3. Wadah interaksi langsung bagi relawan untuk pengembangan pendidikan dan potensi daerah lainnya di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Ingin Mendukung Festival Puncak Papua?
Yuk, terlibat bersama kami!

Daftarkan dirimu untuk jadi petualang dengan semangat pendidikan bagi tanah papua ke melalui salah satu program dibawah ini:

  1. Menjadi pendaki di Ekspedisi pendakian puncak mandala (bit.ly/JadiPendakiFPP)
  2. Menjadi peserta program live-in di kabupaten Pegunungan Bintang (bit.ly/liveinfpp)
  3. Jadi relawan Festival Budaya FPP di Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang dan di Jakarta (pendaftaran akan dibuka pada April 2018)