Catatan 4 Hari Diklat I – Pendaki Puncak Mandala

Oleh: Johanes Dedi
(Relawan Pendaki Puncak Mandala dalam Festival Puncak Papua)

Dalam melakukan sebuah perjalanan (ekspedisi) diperlukan persiapan yang matang, atau lebih dari matang, supaya siap menghadapi situasi terburuk di “medan petualangan”. Apalagi yang dituju adalah tempat yang belum pernah atau jarang didatangi oleh seseorang. Pada kisah kali ini saya akan bercerita pengalaman latihan (Diklat I) yang saya yakin akan banyak manfaat yang dipetik sebagai bekal untuk pendakian ke Puncak Mandala. Latihan 1 yang sudah menjadi rangkaian program ini dilaksanakan pada tanggal 17-20 Februari 2018 yang bertempat di Ciwidey, Gunung yang akan dituju adalah Gunung Tambakruyung. Tidak banyak orang tahu tentang gunung yang terletak berdekatan dengan kawasan wisata Kawah Putih Ciwidey ini, pun saya baru pertamakali mendengarnya dari teman-teman relawan Pendaki Mandala. Dengan ketinggian “hanya” 1994 mdpl (meter di atas permukaan laut), namun di sini saya juga mendapat pelajaran bahwa ketinggian gunung tidaklah menginterpretasikan tingkat kesulitan mendakinya, beratnya track ditambah dengan rimbunnya vegetasi yang beragam menjadi tantangan tersendiri untuk melakukan pergerakan menggapai titik puncak Tambakruyung.

Proses dimulai sebelum hari keberangkatan, yang mengharuskan tim untuk berlatih fisik terlebih dahulu selama beberapa hari dan ditutup dengan sesi tes fisik pada H-1 sebelum keberangkatan Latihan 1, guna untuk menilai kondisi fisik anggota tim Puncak Mandala, karena sekali lagi bahwa dengan  persiapan yang lebih dari matang, kami berusaha meminimalisir kejadian buruk di hutan di mana kegiatan ini banyak mengandung unsur megundang bahaya dan keselamatan yang dipertaruhkan.

Sebelumnya mungkin akan saya perkenalkan anggota Tim Puncak Mandala yang terdiri dari 5 orang anggota WANADRI dan 4 orang relawan Pendaki, dimulai dari anggota WANADRI:

  1. Bang Gareng alias Rangga yang memiliki peran yang cukup vital yaitu sebagai Danops / Komandan Operasi di latihan serta di Pendakian Puncak Mandala nantinya, namun yang saya perhatikan, Bang Gareng juga sering mengambil dokumentasi dalam bentuk foto atau video menggunakan kamera DSLR yang cukup berat.
  2. Bang Alfi, merupakan anggota muda WANADRI, dalam kegiatan ini berperan menangani perbekalan Tim. Orang yang cukup puitis dalam pendakian gunung entah di manapun berada, dramatis dan melankolis.
  3. Bang Ade, merupakan anggota senior WANADRI, menjabat sebagai Pelatih di WANADRI, di Tim Pendakian Puncak Mandala ini memiliki peran sebagai sie transportasi dan mengurus perizinan.
  4. Bang Aang, adalah orang yang akan mengurus kebutuhan peralatan Tim serta memiliki keahlian bidang komunikasi, dan yang saya tahu bahwa Bang Aang merupakan orang yang energik, selama nasi masih tersedia di perbekalan.
  5. Bang Ucil, memiliki peran dalam pengambilan dokumentasi Tim, dengan peralatan dokumentasinya, di setiap momen, bagaimanapun kondisinya, hujan atau panas, malam atau siang, tidak lupa selalu mengeluarkan kamera entah mengambil gambar momen tertentu atau merekamnya.

Untuk Relawan Pendaki yaitu:

  1. Ikki alias Ahmad Fikri, pemuda manis asal Makassar sedang berkuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), memiliki kemampuan navigasi yang cukup baik karena memang berasal dari jurusan Geografi dan juga merupakan anggota muda mapala UGM (GEGAMA). Gemar dalam membaca, memiliki tingkat curiousitas yang tinggi, sering bercerita pada orang lain mengenai kisah petualangannya.
  2. Lilo Dwi Julianto, lelaki tangguh bertenaga besar, berasal dari Jakarta. Saat ini sedang berkuliah di STIA (Penerbangan) semester akhir, sangat mudah beradaptasi dan bergaul, memiliki banyak kawan berasal dari berbagai latar daerah serta suku berbeda-beda. Lilo juga merupakan salah satu anggota STIAPALA, yaitu mapala STIA. Aktif juga di LSM pejuang lingkungan; WALHI yang sudah melakukan banyak karya.
  3. Dhea Ayu, merupakan jurnalis salah satu stasiun TV dan satu-satunya manusia berkelamin perempuan di Tim Mandala. Sisi wanita di dalam dirinya selalu menjadi pembeda di Tim Mandala. Namun jangan salah, dibalik kelemahlembutan hatinya, Dea Ayu adalah sosok perempuan yang tangguh, gigih memperjuangkan apa yang diyakininya. Terbukti, Dea Ayu lolos sebagai relawan pendaki Tim Mandala. Bekerja sebagai jurnalis bidang penjelajahan alam dan sudah cukup banyak pengalamannya menjelajah negeri.
  4. Yohanes Dedi, yaitu saya sendiri, berasal dari Malang, merupakan seorang Guru BK di sebuah SMA negeri di Malang, selain mendaki gunung juga memiliki kegemaran dalam bidang fotografi landscape. Untuk hal kegiatan alam, memang kebanyakan sebatas mendaki gunung saja, karena itu masih banyak yang perlu saya pelajari terutama dengan mengikuti tiap latihan yang ada untuk mencapai target kompetensi yang dibutuhkan dalam pendakian ke Puncak Mandala.

Hari 1

Mulai dari hari Sabtu, 17 Februari 2018, kami bersembilan berusaha bangun pagi dengan kesepakatan pkl 05.00 wib sudah harus berangkat dari sekretariat WANADRI di Jl Aceh no 155, namun karena beberapa persiapan yang masih belum selesai, terjadi keterlambatan hingga pkl 05.30 wib kami baru bisa berangkat. Untuk transportasi, kami menggunakan angkutan umum yang sebelumnya telah disewa oleh Bang Ade untuk keberangkatan dan pulangnya. Membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai lokasi Latihan 1. Kami saling berhimpitan dengan tas gunung berisi kebutuhan selama latihan, semakin mendekatkan kami sebagai Tim, setidaknya kami berdekatan secara fisik terlebih dahulu, baru menyusul pendekatan interpersonal supaya timbul chemistry diantara kami. Selama perjalanan, canda ria menyelimuti kami. Obroilan hangat pagi hari disinari cahay sunrise nan elok, menyapa, memberikan semangat untuk memulai Latihan 1. Setelah melewati perjalanan aspal yang cukup menekuk kaki-kaki kami, tibalah kami di tempat perizinan.

Sempat ada kendala dalam perizinan hingga hampir 1 jam menanti, disela-sela menanti izin keluar, kami sepakat untuk mengisi perut kami dengan camilan di warung terdekat, aneka gorengan pun dengan lahap kami santap, tak lupa kami juga memesan minuman hangat karena hawa di Ciwidey yang memang cukup dingin. Setelah perizinan keluar, kami melanjutkan perjalanan menuju titik drop. Sesampainya di titik drop kurang lebih 30 menit, kami menyantap sarapan yang sudah disiapkan dari sekretariat sebelum memulai pergerakan. Setelah makan selesai, dibagikanlah peta oleh Bang Gareng selaku Danops. Briefing dilakukan beberap saat, menghasilkan keputusan bahwa latihan kali ini dibagi 2 Tim, Tim 1 terdiri dari: Bang Gareng, Bang Alfi, saya dan Lilo; sedangkan Tim 2 terdiri dari: Bang Ade, Bang Aang, Bang Ucil, Ikki, Dea.

Titik koordinat masing-masing tim juga telah diberikan sendiri-sendiri yang otomatis pergerakan kami akan berbeda. Berbekal Peta dan kompas, pertama-tama kami memulai untuk mencari titik awal. Sempat ada kesulitan dalam bernavigasi, saya sendiri sempat blank, sebelumnya saya merasa percaya diri karena sudah ada pembekalan materi sebelumnya, namun saya hanya mengikuti teman-teman saja, belum bisa menerapkan ilmunya. Namun setelah beberapa lama berpikir, memutar-mutar peta dan kompas, saya sudah mulai bisa menerapkan teknik-teknik navigasi darat yaitu resection untuk menentukan letak atau posisi kita dalam peta. Diperlukan kepekaan dan kejelian dalam melihat bentuk 2 dimensi yang ada dalam peta dan mengimplementasikannya ke dalam bentuk secara realita (3D).

Tantangan yang mungkin cukup berat adalah saat kita harus berpikir arah mana yang akan kita tuju dan melatih kepekaan terhadap sekitar, di saat yang sama kita juga harus mengangkat beban berat yang kami bawa di tas masing-masing, belum lagi jika track mulai menanjak atau melewati sungai dan sebagainya. Menjadi sebuah tantangan tersendiri karena merupakan hal baru, tidak hanya tenaga yang dibutuhkan tapi juga intelegensi kita diasah.

Setelah berusaha menemukan titik awal, kami memulai pergerakan menuju koordinat yang telah disepakati sebelumnya, yaitu lokasi istirahat kami bernama CP 1 (07º08’12”LS, 107º 22’55”BT), berjarak sekitar 500 meter. Dengan arahan dari Bang Gareng dan Bang Alfi, Tim kami menggunakan teknik man to man yaitu teknik menggunakan sudut azimuth dan sudut back azimuth untuk mencapai titik CP 1, memanfaatkan 2 orang saling bertukar sudut, kami mengalami kesulitan ketika ada penghalang yang menututpi langkah kami melakukan man to man. Setelah sekian lama melakukan man to man, kami menemukan sebuah tempat yang diartikan sebagai tempat istirahat, namun setelah diperhatikan dan dipastikan lagi, ternyata ada kekeliruan, kami bergeser sekitar 100 meter dari lokasi titik istirahat sebenarnya, yang menjadi masalah yaitu nilai konsistensi, karena diperlukan konsistensi sudut dan ketepatan menembaknya dalam kompas. Hal itu membuat kami dapat mengevaluasi apa yang salah dalam pergerakan kami.

Kemudian kami istirahat selama 1 jam untuk mengisi energi, karena selain beban berat dan terkurasnya pikiran, terik matahari juga dapat menghabiskan energi semakin cepat. Selama kami beristirahat, Bang Alfi sengaja melepas sepatunya untuk dikeringkan karena sempat terperosok dalam rawa, termasuk saya juga dan Bang Gareng. Namun Bang Alfi ternyata mendapati kakinya terserang kutu air, menyebabkan telapak kakinya berlubang. Kemudian Bang Gareng dan Bang Alfi mengatakan bahwa hal yang utama ketika berkegiatan di alam bebas yaitu menjaga kaki tetap bersih sekalipun tercebur lumpur sehingga tidak mudah terserang kuman bakteri dsb. Selain itu Bang Alfi juga mengatakan cara yang ampuh adalah dengan mengoleskan oli ke kaki supaya tidak ada kuman yang masuk, namun harus rajin-rajin mengoleskannya, disempatkan ketika beristirahat membuka sepatu dan mengoles oli.

Setelah cukup beristirahat, kami memulai pergerakan lagi, lokasi yang kami tuju yaitu titik bivak 1 (07º07’48”LS, 107º23’04”BT). Kami mulai mengobservasi dalam peta dan melihat kemungkinan medan yang akan kami lewati, sebelumnya kami sepakat untuk mencapai titik istirahat kami yang sebenarnya dahulu. Kemudian kami mulai menentukan sudutnya 20º arah utara menuju ke titik bivak 1, namun ada kendala medan yang akan menyulitkan, sehingga kami mengambil titik belok 1 menuju ke sudut 62º dahulu ke arah timur laut. Menggunakan teknik guide punggungan semakin memudahkan kami mencapai titik belok 1. Sempat kami melihat Tim 2 melakukan pergerakan melalui punggungan, kami berkomunikasi melaui HT yang dibawa oleh Bang Gareng. Selanjutnya kami memulai menuju titik bivak 1, kami tarik sudut dari titik belok 1 hingga mendapat angka sudut 348º arah barat daya. Dari target yang disepakati, pkl 16.00 wib kami harus sudah mencapai titik bivak 1, namun pkl 15.30 wib kami sudah mencapainya, sehingga diputuskan untuk melanjutkan perjalanan sampai 45 menit lagi menuju puncakan Ps. Cadaspanjang. Sebelumnya pergerakan menuju Ps. Cadaspanjang, terlebih dahulu kami mengisi persediaan air menggunakan botol minum dan kompan di sumber terdekat.

Setelah 45 menit berjalan ternyata kami belum mencapai puncakan, namun karena kami sepakat dalam prinsip WANADRI untuk tidak melakukan pergerakan lebih dari pkl 16.15 wib, karena selain tidak efektif dalam orientasi medan serta tidak dimungkinkan navigasi dalam kondisi gelap, badan juga pasti sudah lelah dan perlu energi intuk keeseokan harinya. Sehingga kami memutuskan mencari lokasi terdekat di tempat yang sedikit lebar dan cukup untuk mendirikan bivak. Campcraft pun dimulai, awalnya saya sedikit kebingungan melakukan hal yang dilakukan terlebih dahulu, Bang Alfi sudah mulai membuka perbekalan untuk diolah, Lilo dan Bang Gareng membangun bivak, lalu saya berinisiatif untuk mencari kayu, awalnya keliru karena kayu yang saya kumpulkan berukuran besar.

Bang Gareng memberi arahan untuk mencari kayu kecil dahulu atau ranting-ranting, karena dalam membuat api, ada aturan sendiri dan bahan-bahan bakarannya pun perlu diperhatikan juga, jangan berani membuat api jika bahannya hanya sedikit, jadi memang diperlukan ranting yang cukup banyak sebagai pemantik bara. Kemudian baru level kayu yang sedikit lebih besar dan seterusnya sampai yang paling besar yang bisa didapat. Tatakan kayu pun juga perlu diperhatikan, sehingga udara masih bisa masuk, karena unsur api ada 3; udara / oksigen, bahan / material, dan panas / bara. Hal yang cukup sulit adalah menjaga bara agar tetap menyala, namun jika semua sudah lengkap, sekalipun dalam kondisi hujan, api akan tetap menyala.

Setelah bivak jadi, api menyala, dan makanan siap disantap, kami memulai evaluasi apa saja yang kurang atau perlu ditambahkan di hari ke 1. Lalu Bang Gareng menginstruksikan pembagian tugas untuk hari ke 2.  Lilo mengajukan diri untuk membangunkan pkl 05.00 wib dan memasak. Sedangkan saya memilih untuk membantu Lilo menyiapkan makanan. Setelah pembagian tugas, kami bersiap untuk tidur.

Hari 2

            Pada hari kedua, pembagian tugas mulai berjalan, Lilo yang bangun paling pagi, dan bertugas membangunkan anggota yang lain pkl 05.00 wib. Setelah itu dia memulai untuk memasak dan mempersiapkan sarapan untuk Tim. Saya turut membantu apa yang bisa dikerjakan sembari juga mengumpulkan ranting kayu sebagai bahan bakaran karena bara api malam hari masih menyala. Setelah sarapan, kami bersiap packing dan melanjutkan pergerakan. Sesuai kesepakatan, kami mencoba untuk ke puncakan pasirpanjang (titik belok 2) terlebih dahulu agar mempermudah proses orientasi medan. Pada saat kami sampai di puncakan Ps. Cadaspanjang, kami memulai untuk orientasi medan, dibantu juga Bang Alfi dan  Bang Gareng yang cukup sabar memberikan bantuannya jika ada kesulitan. Pergerakan selanjutnya kami membuat titik belok 3 (7º8’6”LS, 107º23’8”LS), di mana sudutnya adalah 46º arah timur laut.

Setelah berjalan perkiraan 30 menit menuju ke arah yang dituju, kami melewati 2 sadelan, padahal di peta hanya ada 1 sadelan. Kami mulai bingung menentukan mana sadelan yang benar, setelah diperhatikan, sadelan yang pertama tidak masuk dalam peta karena naiknya tidak sampai 12,5 meter karena perbandingan kontur di peta tiap berubah garis, perubahannya mencapai 12,5 meter sedangkan sadelan yang pertama tidak sampai 12,5 meter. Sehingga kami terus jalan sampai di titik belok 3.

Sesampainya di titik belok 3, kami mencoba orientasi medan lagi dan melakukan resection ke arah titik-titik ekstrim sebagai acuan untuk memastikan lokasi kami. Dengan melihat arah CP 2, kami akan membuat titik belok 4. Ketika dalam perjalanan menuju titik belok 4, kami mendengar suara dari tim 2, seakan suara sudah dekat, kami terhalang oleh semak-semak dan mengharuskan kami membuka pisau tebas untuk membuka jalur. Pada hari kedua ini untuk pertama kalinya kami buka jalur, menebas semak-semak, melewati pepohonan  besar yang tumbang. Sesekali duri tajam menusuk kulit kami yang padahal pakaian yang kami gunakan sudah tertutup semua (baju lengan panjang dan celana panjang). Untuk melewati medan demikian diperlukan kelincahan dan kecermatan dalam pergerakan, banyak sekali faktor dalam hutan yang dapat mencederai kita. Bisa jua terbentur potongan kayu, terperosok, tersangkut duri-duri tajam dan tentu dapat menghambat pergerakan.

Setelah sekitar 30 menit membuka jalur, akhirnya kami bertemu dengan tim 2, mungkin secara emosional kami sudah merasa dekat, jadi perasaan senang menyelimuti kami meski baru dipisahkan 1 hari saja. Kami saling sapa, meneriaki yel-yel (hallo gank! Mandalaa..!) dan menanyakan kabar. Setelah beberapa saat komunikasi, kami menyadari bahwa letak koordinat CP 2 kami sama, sehingga pergerakan kami mulai dari titik temu juga mulai beriringan. Kebetulan medan dalam peta letak CP 2 merupakan pertemuan 2 sungai; sungai bergaris tegas yang berarti airnya selalu mengalir tiap saat (sungai besar) dan sungai garis putus-putus yang menandakan mengalir musiman. Ketika kami melihat sekeliling memang tempat kami bertemu ada aliran sungai.

Ketika kami ingin melanjutkan perjalanan, namun waktu menunjukkan pkl 12.00 wib yang menandakan kami harus beristirahat dahulu sekedar mengisi perut dengan snack ringan. Tim 1 dan 2 mulai membuka perbekalan masing-masing. Tim 1 terkedjoed melihat perbekalan siang tim 2 yang cukup lengkap layaknya makan besar, berisi nasi liwet, lauk-pauk, nata de coco, sedangkan tim 2 bermodalkan roti dan susu kental serta nata de coco. Ketika itu kesenjangan mulai terlihat, tim 1 yang hanya cengar-cengir melihat tim 2 makan dengan lahap, disertai juga dengan sindiran, cukup membuat suasana siang itu menjadi berwarna. Namun dengan semangat kebersamaan, dan demi terwujudnya kesejahteraan yang adil dan beradab, akhirnya kami saling berbagi. Siang itu juga kami mengetahui salah satu anggota tim 2, Ikki, terserang sakit perut mulai kemarin dan sudah beberapa kali BAB, pun siang itu tak lepas dari BABnya. Namun tim sudah mempersiapkan obat-obatan untuk mencegah lebih parah lagi (meski masih bancar juga sih BABnya).

Setelah packing ulang dan mengisi air perbekalan di kompan, kami melanjutkan perjalanan, tentu dengan menentukan sudut pergerakan terlebih dahulu. Arahnya di sudut 60º timur laut. Sekitar 20 menit berjalan, hujan mulai mengguyur, untuk pertama kalinya kami berjalan dalam hujan, jas hujan pun kami kenakan. Beban serasa makin berat karena air hujan dan memperhambat langkah kami karena jalur juga pasti makin licin. Tetap dengan menebas semak-semak untuk membuka jalur, kami sedikit terlena dengan suara sungai yang makin dekat sehingga menghambat langkah kami karena kami perlu mencari jalur sekitaran sungai yang bisa untuk dilewati. Cukup lama kami menempuh perjalanan dan kelelahan mulai dirasakan. Hujan juga tak kunjung reda, kami mulai kehilangan arah dan hari semakin sore, tak berapa lama Bang Gareng dan Bang Aang mulai mengambil alih navigator, membuka jalur sekitar 1 jam dan tepat pkl 16.00 wib, kami mencari lokasi untuk camp. Untuk pertama kalinya kami bermalam bersama 2 regu. Kami saling bahu membahu melakukan aktivitas campcraft; memasak, mencari dedaunan, membuat perapian, mencari kayu, dll.

Malam hari pkl 20.00 wib, setelah makan malam dan membereskan barang, kegiatan evaluasi dimulai. Untuk evaluasi kali ini langsung 2 tim bersamaan, tentang kerjasama dalam navigasi, kepekaan dalam mengenali medan serta pencairan suasana dalam kelompok. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian titik koordinat untuk pergerakan besok pagi oleh bang gareng. Oh ya, malam itu kami makan banyak cukup kenyang dan menikmati, karena untuk hari ketiga akan dilakukan survival, peraturannya tidak ada perbekalan makanan yang boleh keluar kecuali kita mencari sendiri dalam hutan yaitu tumbuhan-tumbuhan atau hewan yang bisa dimakan.

Hari 3

Pagi hari kami mulai bangun satu per satu, namun karena tidak ada pembagian tugas yang membangunkan akhirnya kami semua bangun terlambat, yakni sekitar pkl 5.20 wib. Beruntungnya makan untuk sarapan sudah dimasak mulai malam hari, jadi hanya tinggal menghangatkan saja dan menambah beberapa lauk dan minuman. Mungkin yang selalu jadi perhatian saya adalah bara api yang tidak padam mulai semalam, padahal hujan cukup lebat dan bahan untuk perapian basah semua, namun dengan teknik yang benar, Bang Gareng dan Bang Aang sanggup membuat bara api semalam suntuk. Masak pun tidak perlu menggunakan kompor gas, tinggal menmbah bahan bakaran di bara api itu.

Selesai makan dan beres-beres, kami bersiap melakukan pergerakan, namun yang utama kami diberikan briefing terlebih dahulu perihal “survival”, bagi saya pribadi ini merupakan hal yang asing, dan belum pernah saya lakukan sebelumnya. Namun ada prinsip-prinsip yang saya pelajari bahwa survival adalah tentang bagaimana kamu berusaha untuk makan, bukan untuk kuat-kuatan menahan rasa lapar, karena dari survival sendiri yang berarti bertahan hidup, maka salah apabila tidak makan. Perlu juga mengetahui bahan makanan di alam yang bisa dimakan. Dijelaskan juga bahwa beberapa organisasi pecinta alam kadang salah kaprah dalam pemahaman tentang survival dan mengakibatkan hal yang fatal, bisa juga berujung kematian. Lilo dan Ikki merupakan anggota di tim yang pernah merasakan survival dan memiliki literatur tumbuhan yang bisa dimakan di hutan. Tugas kami dalam pergerakan nanti adalah selain navigasi juga mengumpulkan bahan makanan sebanyak mungkin dan bisa diolah ketika istirahat nanti.

Kembali dalam hal navigasi, kami perlu naik ke atas bukit terlebih dahulu untuk orientasi medan, karena titik bivak kami semalam berada di punggungan yang tertutup oleh pepohonan, sehingga diperlukan lokasi yang lebih terbuka untuk orientasi medan. Sebelum kami mulai bergerak, kami selalu melakukan doa terlebih dahulu, dengan posisi melingkar dan berangkulan, sebuah momen yang cukup emosional secara tidak langsung terbentuk dalam tim. Setelah berdoa kami berteriak yel-yel; Hallo Gank, Mandala..! Setelah itu kami naik ke puncak punggungan, terlihat beberapa titik esktrim yang dapat kami buat patokan dalam resection yaitu puncakan kolalok dan puncakan masigit. Dengan bekal sudut 34º arah timur laut, kami menuju ke puncakan Kolalok. Sempat kami “lebos” atau salah punggungan setelah “babat alas” sekitar 1 jam lamanya, namun akhirnya kami kembali lagi karena jalur yang terlalu curam, kurangnya kepekaan dalam medan membuat hal ini dapat terjadi. Setelah naik lagi dan mengikuti jalur yang sesuai sudut. Proses membuka jalur dilakukan oleh Lilo, duri-duri tajam tetap jadi momok yang bersahabat membelai kulit kami. Setelah cukup lama berjalan, sekitar pkl 10.00 wib kami sampai di puncakan Kolalok. Kembali kami lakukan resection, terdapat puncak Tilu di sebalah utara dan puncakan 1802 di timur laut. Kami melanjutkan pergerakan tetap menuju timur laut dengan sudut 62º.

Pergerakan berhenti pada pkl 12.30 wib untuk istirahat siang. Sesuai dengan yang disepakati sebelumnya bahwa kami harus mengumpulkan bahan-bahan makanan di hutan, cukup banyak yang kami peroleh waktu itu. Beberapa bahan kami dapatkan dari Bang Aang yang memberi kami cukup banyak bahan makan yang bisa dipanen, salah satunya jantung pisang dan beberapa buah, meski bergetah namun tetap enak untuk dimakan. Prinsipnya di hutan itu makanan hanya ada 2 level rasa, enak dan enak sekali. Setelah kami berkumpul, Bang Aang mencoba mengecek bahan makanan yang kami peroleh, ada beberapa daun muda yang keliru kami ambil, tetapi banyak pula yang bisa diolah. Pelajaran yang bisa diperoleh yaitu dalam pemilihan bahan, tidak hanya sekedar mengambil segala macam bahan, namun kita juga perlu memperhatikan kandungan gizi yang ada dalam  bahan makanan survival tersebut supaya tetap bisa memberi energi untuk tubuh. Selain itu terkadang prinsipnya yang bia dimakan oleh hewan biasanya bisa juga dimakan oleh manusia, namun pada kenyataannya, beberapa tumbuhan itu memang bisa dimakan tapi tidak bisa masuk dalam proses pencernaan manusia, sehingga “outputnya” nanti ketika sudah saatnya tiba, bentuknya akan tetap seperti daun, seperti saat kita makan.

Setelah mendapatkan pengetahuan singkat, kami melakukan pengolahan bahan tersebut, kembali diingatkan bahwa dalam proses mengolah, ada beberapa tumbuhan yang perlu direbus 2 atau 3 kali terlebih dahulu untuk menghilangkan efek racun di dalamnya, jadi tidak bisa serta merta dimakan. Namun ada pula yang bisa langsung dimakan, tapi tetap pada jumlah yang terbatas karena jika terlalu banyak bisa berakibat sakit perut atau diare. Lalu kami berusaha merebusnya, setelah itu kami menggunakan bumbu tambahan dan sambal, menambah nikmat rasa bahan-bahan survival, kami pun tak sabar mencicipinya. Setelah matang, semua berkumpul dan mencoba masakan tersebut dan hasilnya luar biasa, samacam tumis. Kami pun melahap makanan itu sembari bercanda, di sela-sela bercanda terbesit obrolan untuk mengeluarkan bahan cadangan alias nasi sisa tadi pagi, semua tertawa dan seakan sepakat, tanpa pikir panjang keluarlah perbekalan sisa yaitu nasi dan beberapa lauk, cukup nakal tapi memang survival kali ini bersifat semi survival, untuk pengenalan pada kami yang memang belum terlalu mahir di bidang tersebut.

Kenyang dan bahagia merupakan ungkapan kata yang cocok untuk siang itu, ditambah beberapa snack untuk menutup makan siang. Selang beberapa saat sekitar pkl 13.30 wib, kami melanjutkan perjalanan. Kembali kami bernavigasi dan fokus pada medan sekitar, namun tetap saja kepekaan yang masih kurang membuat kami sering mendapat kesulitan. Setelah melewati beberapa punggungan, lembahan dan sadelan, kami mencapai batas waktu yaitu pkl 16.30 wib, di mana kami harus berhenti dan melakukan aktivitas camp. Untuk kali ini kami sebagai relawan dijadikan 1 bivak dan wajib membangun bivak. Saya dan Lilo membangun bivak, Ikki mencari kayu dan membuat perapian, sedangkan Dhea menyiapkan bahan makanan untuk diolah. Hujan sempat mengguyur cukup deras namun hanya sebentar saja. Lalu kami berusaha membuat perapian kami sendiri, berbekal pengalaman yang telah diajarkan, kami mengumpulkan ranting kayu terlebih dahulu untuk bahan bakaran. Setelah mendapat cukup banyak, kami berusaha mencari kayu dengan ukuran yang lebih besar. Awalnya cukup sulit membentuk bara, perlu waktu yang agak lama, karena bahannya yang kami rasa cukup ternyata masih kurang. Ditambah lagi kondisi hujan sehingga memberikan tantangan sendiri bagi kami. Bang Ade memberi masukan untuk mengarahkan udara atau angi ke perapian, intinya angin berasal dari bawah punggungan, jadi perapian dihadapkan pada asal angin, dan harus tetap terbuka sehingga bisa masuk. Kesalahan awal, arah angin menuju bara api malah kami tutup sehingga menyulitkan api tetap menyala. Setelah perjuangan cukup lama akhirnya bara terbentuk dan perlahan dengan bantuan kipas manual (piring plastik), api muncul, lumayan untuk memasak air dan menghangatkan tubuh, tak lupa mengeringkan kaos kaki yang basah.

Lapar sudah tak bisa ditunda, kebetulan makanan juga sudah siap sedia, langsung saja kami berkumpul bersama untuk santap malam. Malam itu lauk yang dimasak cukup istimewa, rending. Lebih dari sepadan dengan apa yang telah kami semua lewati hari itu. Malam itu makanan yang diolah tak bersisa, dan celetuk dari Bang Ade, “belum tentu di kota bisa merasakan makanan enak seperti ini”, sangat setuju dengan kata-kata itu. Setelah itu kembali kami semua melakukan evaluasi tentang pergerakan dan sharing cerita. Ditengah sharing hujan deras mengguyur. Cukup deras dan bertahan lama. Akhirnya kami “menyelamatkan diri” masing-masing ke dalam bivak, rapat evaluasi pun ditutup Bang Gareng dari bivak masing-masing. Tidak lupa Bang Gareng mengingatkan untuk tugas membangunkan esok pagi adalah saya, dan kami semua beristirahat.

Hari 4

Keesokan paginya, saya bangun pkl 5.10 wib, terlambat 10 menit, alarm yang saya pasang sudah berdering namun karena posisi tidur saya “miss location” melenceng jauh sehingga sempat tidak mendengar alarm. Namun senang rasanya hari itu sunrise menyapa kami setelah hujan semalam. Kami melanjutkan aktivitas masak pagi dan packing. Sekitar pkl 8.00 wib kami mulai pergerakan. Terlihat di depan kami (sebelah timur) berdiri tegak sebuah puncakan yang tak lain adalah Gunung Tambakruyung, titik tujuan kami. Setelah dilakukan pengukuran sudut dan orientasi medan. Kami bersiap melakukan pergerakan, langsung kami tembak sudut tersebut dan kembali lagi kami kurang peka dalam melihat medan. Padahal kami sudah menebas semak cukup panjang untuk membuat jalur. Patokan kami di peta, akan menyebrangi sungai, waktu itu sungai sudah terdengar cukup dekat di bawah kami, namun curamnya jalur membuat kami salah dalam pemilihan punggungan dan berakibat tenaga dan waktu terbuang cukup banyak. Kembalilah kami ke atas dan berpindah punggungan, setelah Bang Gareng dan Bang Ade meneriaki yel-yel pada kami. Perjalanan kami lanjutkan dan ketemulah sungai yang dimaksud. Jalur sungai terlihat membentuk setengah lingkaran dan mengharuskan kami mengukur sudut sungai dan memeriksa medan sekitar agar tidak keliru dalam masuk punggungan.

Setelah dicek dan merasa yakin, kami melanjutkan perjalanan, tak lupa kami mengisi air di kompan untuk persediaan. Ketahanan fisik diuji dalam jalur menuju puncak Tambakruyung, kemiringan jalur yang terjal cukup menguras tenaga ditambah lagi diperlukan penebasan karena duri-duri semakin banyak dan semak-semak yang tinggi menghalangi langkah kami. Tetap berpatok pada sudut puncak 82º, kami menerabas rimbunnya semak-semak, memotong batang kayu yang tumbang dilakukan dengan kemiringan yang mungkin bisa mencapai lebih dari 45º. Setelah 4,5 jam menerjang jalur, kami berhenti untuk istirahat mengisi tenaga. Kami mengeluarkan nasi sisa pagi tadi dan memakannya cukup lahap. Ditambah dengan minuman nata de coco yang segar memberikan tenaga baru untuk kami. Sesudah cukup beristirahat, pkl 13.00 wib kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Semakin mendekati puncak, jalur yang tersaji makin rimbu, kali ini semak perdu yang sangat susah untuk dipotong mengharuskan kami untuk merebahkan diri untuk membuat jalur, duri yang menancap sudah tak kami rasakan karena sudah menjadi sahabat setia perjalanan. Tanjakan yang cukup tinggi mengharuskan kami untuk berpegangan pada pohon-pohon supaya tidak sampai tergelincir jatuh ke lembahan. Sesekali kami saling bersautan bernyanyi, berpuisi sekedar untuk menghibur diri meski sedang dalam keadaan fisik yang berat. Melupakan segala kelelahan dengan berjalan beriringan sambil meneriaki yel-yel, membakar semangat kami untuk menuju puncak. Pkl 16.15 wib dengan cukup payah kami berhasil semua menggapai puncak Tambakruyung, disuguhi pemandangan yang cantik meski hanya sesaat karena kabut tiba-tiba datang seketika. Tak lupa kami mengabadikan momen ini. Sempat juga kami membuat video kocak sekedar untuk bercanda.

Pkl 16.30 wib kami bergegas turun ke arah timur menuju Ciwidey bertemu driver kendaraan yang kami sewa yang telah menunggu di kantor Kecamatan. Turun pun sebenarnya banyak cerita yang kami dapat. Tapi bukan cerita, mungkin lebih tepatnya banyak terperosok, tergelincir, terjungkal, terpeleset, membuat kami jatuh bangun karena memang jalan turun yang cukup curam. Sempat ditengah-tengah jalan turun, Ikki merasa tidak tahan dengan sakit di perutnya. Memaksa untuk menggali lubang dipinggir kemiringan jalur, sempat juga saya berpikir; “bisa-bisanya ya di kondisi jalur miring seperti ini”, namun yang namanya kepepet semua memang bisa dilakukan. Setelah melewati jalur turun yang cukup membuat pantat kami coklat semua karena menggunakan teknik turun “sliding tackle”, sampailah kami semua dengan selamat sentosa pkl 18.00 wib di Kecamatan Ciwidey. Kami bersih diri dahulu dan tak lupa pesan mie ayam yang cukup lahap kami habiskan. Pkl 20.00 kami kembali ke Sekretariat Wanadri. Selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *