Catatan Survival, Diklat 1 Tim Pendaki Puncak Mandala

Oleh: Julian Lilo
(Relawan Pendaki Puncak Mandala dalam Festival Puncak Papua)

Langit yang masih mengantuk tersiram warna merah hampir jingga
Matahari yang memaksa bangun kami semua
Memaksa embun untuk jatuh kepelukan tanah yang menyibakkan kabut berbau basah
Dengan segera ayam mengisyaratkan purnama untuk segera pindah dari singgah sananya

Dhea yang masih merebah di atas matras, dan Yohanes yang menyingkap tangannya di pipi sedang merasakan indahnya mimpi di ruang bolder depan, dengan kemudian terbangun karena dinginnya udara Bandung di hari sabtu, dan setiap malamnya. Kemudian Iki datang menghampiri dari balik tembok ruang musholah yang sepertinya telah usai melakukan shalat subuh di sekretariat Wanadri jln.Aceh 155. “yuk bangun, siap siap berangkat, mandi dulu.”

Dhea dan yohanes beranjak dari singgah sananya dengan wajah yang masih setengah nyawa, satu persatu berdiri dan bersiap untuk lekas ke kamar mandi yang ternyata sudah ada beberapa orang anggota Wanadri yang mengantri di depan kamar mandi dengan memegang perlengkapan “perangnya” seperti handuk dan alat mandi, memang selalu seperti inilah suasana pagi di sekretariat Wanadri, semua seperti sudah memiliki “alarm” di tubuhnya masing masing untuk bangun dan berolahraga, karena kesehatan jasmani merupakan hal yang paling penting untuk menjalani hidup, tentu juga sehat rohani. selain itu ada beberapa tiap tiap dari mereka juga memasak menyediakan sarapan untuk siapa saja yang merasa bahwa dirinya adalah bagian dari keluarga, ada yang menyapu lantai dan kegiatan lain yang sebelumnya tugas tugas tersebut sudah diorganisir (piket).

Terdengar suara kendaraan datang dari depan sekretariat, yang ternyata angkot jemputan yang sudah di pesan dari hari sebelumnya, kami semua bergegas, menyelesaikan segala rutinitas di kamar mandi dan bersiap untuk berangkat menuju tempat latihan pertama kami sebagai 9 Pendaki Puncak Mandala ; “Tambakruyung, I'm coming….”

Tas-tas yang berisi peralatan kebutuhan latihan kami, juga bekal yang sudah di siapkan untuk selama 3 hari yang semestinya kegiatan 4 hari karena dalam satu hari ada sesi latihan survival, semua tas kami masukan kedalam angkot yang kira kira dengan masing masing berat 20 kg, juga di tambah beban tubuh kami 9 orang juga ada beberapa orang yang menumpang untuk ketempat latihan yang kebetulan satu arah. Supir angkot sudah terbiasa dengan bawaannya kali ini, karena memang sudah langganan kalau untuk berkegiatan.

“Yuk sini bentuk lingkaran”, kata salah satu dari kami. kami semua menundukkan kepala, seraya berdoa kepada yang maha kuasa, hanya dengan begitu, kami bisa melakukan segalanya dengan rasa berserah.

Langit mulai merekah, matahari semakin percaya diri untuk menyiratkan sinarnya, angin yang menyergap karena kendaraan yang mulai menancapkan gasnya dengan cepat. Tibalah kami di suatu tempat perkemahan di ciwidey untuk segera mengurus surat surat pemberitahuan bahwa kami akan melakukan kegiatan latihan di daerah tersebut. Sambil menunggu kami semua singgah di salah satu warung untuk ngopi, untuk sekedar meluruskan kaki, juga untuk ngemil ngemil gorengan sedikit, ada gorengan yang khas disini, namanya “cibay”, aci yang di balut dengan lumpia yang di goreng garing, “so crispy” kata Dhea sambil menyocol ke sambal yang sudah disediakan pemilik warung. Pemberitahuan sudah selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju titik awal kami latihan, sebelum itu kami sarapan di pinggir jalan, kemudian jalan menuju pertigaan jalan di perkebunan teh yang ternyata itu adalah titik awal kami untuk latihan, dengan vegetasi terbuka, kami memulai bernavigasi dengan menyamakan utara kompas dan peta dengan teknik man to man, saya dengan Yohanes juga di dampingi bang Gareng dan bang alfi dari Wanadri, iki dengan Dhea di dampingi dengan bang ade, bang aang, dan bang ucil. Kami semua memulainya dari titik awal yang berbeda dan arah yang berbeda, hari pertama kami cukup lumayan mudah karena waktu yang cukup banyak, juga medan yang terbuka, walaupun sedikit melenceng dari titik checkpoint yang seharusnya. Tapi kami tiba di titik bivak lebih awal dari waktu yang di tentukan. Lalu kami melanjutkan perjalanan hingga waktu Yang di tentukan. Setibanya kami, saya langsung membuka sepatu, dengan tiba tiba bang Gareng mengingatkan “kalau masih dalam pergerakan sepatu harus selalu di pakai, begitu cara wanadri.” Merasa di ingatkan saya langsung menggunakannya lagi, untuk memulai membangun bivak, membuat perapian, juga memasak, yang masing masing sudah melakukannya. Matahari mulai lelah, membiarkan warnanya pudar oleh jingga, tersungkur ia di ufuk barat, rembulan mengambil alih segalanya. Perapian, bivak dan Makanan telah siap, kami berdoa lalu memulai makan malam dengan lauk sayur sawi, dan ikan asin dengan lahapnya. Setelah itu kami melakukan evaluasi dan setiap malamnya. Rembulan makin menampakan karismanya, suara suara khas hutan terngiang di telinga, lalu kami merebah.

Hari kedua dimulai dengan sarapan, kami semua bersiap siap untuk memulai pergerakan, yang kali ini dengan medan cukup rapat dan menanjak, kami berdoa dan memulai perjalanan, yohanes kali ini yang di depan dengan menggunakan pergerkan guide punggungan “bukan guide punggung teman yaa…” kata bang gareng. Kami berjalan menuju pasir. Cadas Panjang dengan ketinggian 2066mdpl, di tempat itu kami melakukan orientasi medan, salah satu hal yang penting bernavigasi adalah melakukan hal tersebut, dengan sikap sikap navigasi, melakukan resection dan intersection, mencari titik acuan agar mengatahui perkiraan dimana letak posisi kita sekarang baik, di peta atau yang sesungguhnya. Setelah kami tau langsung kami melakukan langkah selanjutnya untuk menentukan tujuan kami dengan menentukan sudut pergerkan kami pada kompas, dengan selalu memperhatikan medan yang sesungguhnya dan dalam peta. Hari kedua cukup lama, karena medan yang tertutup, juga menanjak, juga waktu yang lumayan terkuras karena hal tersebut, di titik istirahat kami, bertemu dengan iki, dhea dan yang lainnya, lalu kemudian kami melanjutkan pergerkan bersama untuk menuju titik bivak, di perjalanan kami melewati sungai yang seharusnya tidak kami lewati, pendamping kami sadar bahwa kami telah melenceng dari jalur yang sudah di tentukan, kami lalai melakukan navigasi, yang seharusnya kami aktif dalam melakukan orientasi medan, tapi karena terlalu lelah dan terlena pada jalur setapak kami malah tersasar, “beginilah belajar navigasi, emang harus ke sasar dulu”. Kata bang alfi. dengan terpaksa kami membangun bivak di titik yang bukan semestinya untuk kemudian pelajaran yang terpenting besok harus lebih peka terhadap lingkungan atau medan yang di lewati, dan harus aktif berorientasi medan.

Hari ketiga “survival dibuka” salah satu dari kami berkata, hari ini memang sudah direncakan untuk melakukan survival, meskipun dalam sebuah perjalanan tidak ada yang berencana untuk melakukan hal tersebut, “segalanya harus di persiapkan dengan baik, namun kita juga harus belajar survival untuk jaga jaga, jadi kita ga bergantung sama orang lain, kita harus bisa mengandalkan diri sendiri”. Kata bang ade dan bang aang.
Dan di sisi bivak bang ucil sedang memotret kegiatan kami, yang memang sejak awal adalah tugasnya untuk mendokumentasikan kegiatan kami, mulai dari memotret dan membuat video.

Pergerakan kami mulai selalu dengan berdoa, “Mandala!!!” Teriak semuanya seusai berdoa, menandakan kami telah siap melakukan pergerakan. Hari ketiga cukup melelahkan karena semua tim lumayan merasakan lelah, kami ingat evalusi navigasi kemarin, dari masing masing kami memulai melakukan orientasi medan, sudah bertemu dimana titik kami berada lalu, kami menentukan sudut tujuan kami selanjutnya dan yang sebenarnya, yang kemudian kami diskusikan kembali untuk mencari satu sudut yang harus kami kunci.

Kami memulai perjalanan, dengan kondisi yang harus survival, dan medan yang naik turun, semua terlihat cukup lelah tapi kami tetap mengingat tujuan kami kesini adalah untuk berlatih, untuk tidak mengecewakan diri kami. Tiba kami di tempat istirahat, makan siang kali ini kami dapat dari alam, alam telah menyediakan segalanya untuk kami, alam mengajarkan kami rasa syukur. dengan ilmu yang telah dibekali makanan apa saja yang bisa kami konsumsi juga di dampingi kang Aang, Bahwa dalam prinsip survival harus ada 5 jenis makanan yang akan kita olah, guna menetralisir racun dari masing masing makanan tersebut yang sifatnya berbeda beda, ada asam, pait, sepat, dll. Merebusnya hingga 2 kali agar kotoran dan racun tersebut juga hilang, kami “belanja survival” yang dimaksudkan adalah dengan mencari bahan makanan untuk survival, kemudian memasaknya dengan cara menumis, ada jantung pisang, umbul pakis dll, dengan tiba tiba salah satu kami tergoda untuk makan dengan nasi yang sebelumnya memang tersisa, “gagal survival kita hari ini hahaha” kami semua tertawa, memang keroncongan sudah perut kami, “orang indonesia, maklum kalo makan harus pakai nasi”. Hari ketiga hanya jadi semi survival, karena kelanjutannya memang kami juga memasak nasi dan menu lain sisa dari menu hari kemarin. Bivak pun, dari yang memang biasanya kami menggunakan bivak dari flysheet, seharusnya hari ini kami membuat bivak alam untuk masing masing orang, tapi tidak jadi, karena hujan terlalu deras sore itu, juga langit yang cukup gelap. Membuat kami cukup kelelahan ketika melakukan pergerakan, tapi beginilah kegiatan kami, semuanya harus melakukan sesuatu, supaya tidak dingin

“Bergerak, bergerak, bergerak yuukk, jangan vacum,” kata bang Gareng.

Kami sudah berada di jalur yang semestinya, meskipun belum pada titik bivak yang sebenarnya, kami semua melakukan aktivitas seperti biasanya, memasak, mecari kayu untuk perapian, membuat bivak, juga menyiapkan alat komunikasi yang disebut SSB, untuk memberitahu kondisi kami, titik kami berada, dan kondisi cuaca, kepada beskom di sekretariat Wanadri 155, untuk mengantisipasi terjadinya hal hal yang tidak di inginkan. Makan telah siap, evaluasi selalu kami lakukan setiap malam guna memperbaiki apa apa saja yang harus di perbaiki, juga mecairkan suasana dari tiap tiap kami yang masih baru melakukan aktivitas alam terbuka bersama, mengetahui sifat masing masing dari kami. Malam mulai dingin, hujan gerimis membentuk kabut tipis. Api yang semakin besar membakar kayu menjadi abu, dan angin bersetubuh, dan mimpi pun berlabuh.

Kabut yang mulai memudar, dingin yang menusuk telapak kaki, dan matahari menyusup masuk lewat celah celah pohon yang tinggi, terlihat dari kejauhan gunung soliter yang lancip dan megah, dengan tumbuhan yang rapat, “tambakruyung” kata salah satu dari kami sambil mengulet dan menguap, kesanalah kami akan menuju di hari ke empat ini, seperti biasa semua melakukan tugasnya masing masing ketika bangun, tidak pernah ada yang diam semu bergerak seakan sudah terbiasa tanpa menunggu perintah, memang begitulah semestinya, dalam melakukan perjalanan berkelompok, kita harus berfungsi satu sama lain, agar tidak menyusahkan atau di susahkan, banyak yang berkata, “bahwa alam akan memberi tahu seperti apa sejatinya dirimu” begitupun di kehidupan sehari hari.

Kami mulai bergegas untuk bernavigasi, menentukan sudut dan koordinat tempat kami bermalam dan tempat yang akan kami tuju, untuk kemudian melakukan pergerakan, beberapa kali kami salah mengambil jalur, lagi lagi kami lalai untuk memilih jalur, beberapa kali kami di tarik mundur oleh pendamping karena tidak mengikuti punggungan, yang malahan menerobos melewati lembahan, sangat beresiko, kami memang hanya terpaku pada sudut, yang seharusnya dalam sikap bernavigasi adalah selalu orientasi medan dimanapun, untuk melihat kontur mana saja yang lembahan mana saja yang punggungan yang bisa di lewati, hari ke empat cukup melelahkan, salah satu dari kami mulai kehilangan konsentrasi dan fokus atau bahkan semua dari kami, karena jalur yang terus terusan tertutup rapat, juga menurun dan menanjak, hingga akhirnya kami tiba di sungai besar, titik awal kami untuk “summit attack, tambakruyung, semeru mah kalah ini.” Kata salah seorang pendamping kami sambil mencuci muka dari air sungai yang jernih dan nampaknya kami juga tergoda untuk mandi, karena beberapa hari sudah tidak mandi hahaha, tapi waktu sangat tidak mendukung kami untuk sekedar berendam, kami hanya mengisi persediaan air untuk nanti makan siang, juga perjalanan menanjak menuju puncak Tambakruyung. Kami melanjutkan perjalanan dengan terus mengikuti punggungan, vegetasi semakin rapat, seperti tidak ada yang pernah menyentuh tempat itu, ranting ranting seperti saling terikat untuk menutup gerak kami, mengahalangi kami untuk masuk lebih dalam, jalan menanjak yang begitu ekstrim dengan kami yang membawa beban tas dan air, semua mengatur napasnya masing masing, kaki yang mulai huyung, terkuras habis tenaga kami karena harus menebas untuk membuka jalur yang ingin kami lewati. benar kata salah satu pendamping kami tadi, ini lebih dari gunung Semeru yang berada di jawa timur sana, kalau tidak percaya, silahkan datang ke “TambakRuyung” dan rasakan sensasinya. Langit mulai mengernyitkan sejuknya, panas mulai terasa, pohon pohon yang menaungi mulai tiada, tanda bahwa kami berada cukup tinggi, dan pada akhirnya makan siang pun tiba;

Ketika kondisi fisik sudah mulai melemah juga tingkat fokus yang berkurang, juga tingkat stress karena selalu melakukan hal yang sama selama 4 hari, hanya makanan lah yang dapat mengerti, dengan tiba tiba teringat “makanan menjadi sumber energi, untuk memenuhi kebutuhan kalori, selain itu makanan juga bisa menjadi hiburan tersendiri untuk meningkatkan psikologi untuk kegiatan alam terbuka selama berhari hari”. Bang Sony Oss salah satu senior yang pernah mengajari kami dalam materi kelas berkata.

Perut sudah mulai memberontak, cacing cacing yang memaki usus untuk segera menurunkan jatah makannya siang itu, “Rendang Gembul” adalah menu makan siang hari itu, karena memang sudah di persiapkan sebelumnya oleh kang Alfi dari bagian Perbekalan, ia tau menu apa saja yang sekiranya cocok untuk waktu waktu tertentu, Dhea yang mulai mengolah, nasi dan piring di keluarkan, sendok yang tidak sabar untuk menyongkel daging daging untuk segera di masukan ke dalam langit langit mulut, dan di kunyah dengan penuh hikmat, “Oh nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan” seraya membuat kami berfikir bahwa alam lagi lagi mengajari kami untuk bersyukur. Waktu makan telah usai, wadah wadah rendang yang bersih karena harus dipastikan semuanya jangan ada yang terlewatkan, dan piring piring yang tak ada sisa sebersit minyak pun, nikmat sudah, ngantuk mengembara hahaha. Tapi kami harus melanjutkan perjalanan, untuk sedikit lagi mencapai puncak Tambakruyung, cukup berat perjalanan kami ketika perut masih banyak terisi, pergerakan kami mulai melamban, waktu yang semakin menipis, jalur yang semakin tertutup dengan tanaman tanaman rotan dan kantung semar yang menjalar, semua dalam hening, dengan tiba tiba salah satu dari kami berpuisi, “Sahabat” hanya itu isinya, sepanjang perjalanan kami bernyanyi untuk menghilangkan jenuh, dari mulai dangdut “nela karisma” jadi anadalan utama, sampai lagu lagu yang kami buat buat sendiri, langkah terasa ringan bagi kami, puisi yang kami buat secara besahut sahut seperti sihir yang menghilangkan rasa bosan dan lelah kami, lagu yang berganti ganti, seakan mengiringi jiwa kami dekat dengan puncak, dengan alam, dengan penciptanya, oh Tuhan kau kah yang hadir, untuk kemudian memberi kami nikmat yang tak terhingga, nikmat dalam perjalanan ini bersama sahabat yang menjadi keluarga ini”.
Langit mulai terlihat seperti mendekat, terlihat pohon sudah mulai habis di ujung jalan menanjak, dan pada waktunya, kami sampai di puncak Tambakruyung.

“Wooooooooo, alhamdulillah”, kami semua tiba satu persatu, duduk beristirahat yang sayangnya cuaca sedang tidak bagus untuk bisa melihat pemandangan di sekitar, hujan dan kabut cukup tebal waktu itu, kang Ucil mengeluarkan “senjata”nya untuk mendokumentasikan kami, berfotolah kami semua dengan pakaian yang lepek dan tanpa persiapan, untuk hiburan Dhea yang seorang reporter dari salah satu media berita mencoba membuat siaran bersama bang Ucil dengan narasumber kang Aang yang skenarionya menjadi salah satu warga sekitar yang sedang mencari cacing untuk di jual, lalu kami lalu lalang di belakang bang Aang dan Dhea seperti figuran ala ala siaran berita di tv agar terlihat sungguhan, bahagianya kami saat itu. Tapi perjalanan belum berakhir ; Segalanya memiliki tujuan, dan tujuan yang utama dalam sebuah perjalanan adalah “pulang” usai bertualang, pada rumah, merebah dalam larut keluh kesah.

Bersegera kami semua untuk kembali ke kehidupan yang menjemukan, untuk kembali pada realita bahwa hidup bukan sekedar untuk bersenang senang.
Langit cukup gelap, seperti cemburu pada mega yang mesra dengan hujan.
Dengan cepat kami semua turun mengikut jalur yang telah di tentukan kang Gareng, jalur setapak, jalur yang cukup licin, beberapa kali dari kami sering terjatuh, dan akhirnya memutuskan untuk duduk dan merosot menggunakan kaki, sampai di tempat terbuka, Kang gareng memberi tahu bahwa kita berada di punggungan yang salah, tapi kang Alfi tetap mengikuti jalur ke bawah, sampai akhirnya bertemu sungai, yang kemudian terlihat ladang dan dibawah pemukiman rumah warga, langit yang menguning memberi kami selamat seperti perayaan hari ulang tahun, senja yang tak tergambarkan karya maha kuasa, lelah yang tergantikan, terima kasih sahabat, terima kasih Tuhan. Perjalanan kami akan berlanjut hanya jika kau menghendaki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *