Live-In

Mengapa tinggal bersama masyarakat?

Informasi tentang Papua bisa jadi mudah dicari dalam sekali ketuk. Situs berita hingga situs perjalanan mencatat Papua sebagai ujung timur terjauh Indonesia yang demikian eksotis. Eksotis karena tak banyak dari kita yang benar-benar melangkahkan kaki ke sana, menjelajah lebih jauh dari sekadar membaca dan melihat gambar.

Kearifan lokal tidak bisa hanya dibaca, tetapi harus dialami dan dirasakan. Kami mengajakmu hadir dan tinggal langsung di desa, hingga sekembalinya nanti, kamu bisa mengisahkan langsung surga yang kamu rasakan sendiri.

Apa saja yang akan dikerjakan di desa?

Interaksi adalah hal terutama yang akan dilakukan di desa. Hubungan timbal balik yang akan terjadi antara kita, masyarakat pendatang, dengan masyarakat lokal di tujuh desa Kabupaten Pegunungan Bintang. Dalam interaksi tersebut, kita memberikan ilmu dan pengalaman yang kita miliki, sementara kita menyerap kearifan lokal yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.

Bagaimana kehadiran kita membantu mereka …. dan juga kita?

Bagi kita yang berada di kota besar, interaksi dan pertukaran informasi berlalu secepat waktu. Namun bagi mereka yang hidup di balik pegunungan dan hutan, interaksi jarang terjadi. Maka kehadiran dan saling bertatap muka bermakna kesempatan.

Bagi mereka, ini kesempatan untuk melihat dunia yang lebih luas dari desa dan kota kabupaten mereka. Bagi kita, ini kesempatan untuk menjelajahi Indonesia di luar kota kelahiran kita sendiri.

Sebagai relawan, kita bisa memberikan kontribusi dalam bentuk apapun. Untuk mewadahi ragam latar belakang dan aktivitas relawan, Live-In Festival Puncak Papua menyediakan beberapa bentuk keterlibatan. Bagaimana kamu bisa terlibat?

  • Memilih durasi live-in dan tanggal pelaksanaan

Durasi berikut mencakup waktu perjalanan pulang pergi Oksibil – desa dan waktu berkegiatan di desa.

    • 1 minggu (waktu berkegiatan di desa selama 3 hari) di Desa Okatem, Desa Aboding, Desa Parim, Desa Mimin Ngangom, Desa Bumbakon. Tanggal pelaksanaan terbagi menjadi tiga kloter:
      • Kloter 1: 8 – 14 April 2018
      • Kloter 2: 13 – 19 April 2018
      • Kloter 3: 18 – 24 April 2018
    • 2 minggu (waktu berkegiatan di desa selama 8 hari) di Desa Pepera. Tanggal pelaksanaan 13  – 24 April 2018.
    • 3 minggu (waktu berkegiatan di desa selama 15 hari) di Desa Bime. Tanggal pelaksanaan 7 – 24 April 2018.

 

  • Memilih bidang kontribusi live-in

    • Pelatihan Guru

Pelatihan guru tentang pembelajaran kreatif, pemahaman kurikulum 2013, pembuatan RPP, pemanfaatan Microsoft Excel untuk pembuatan evaluasi penilaian siswa, dan penggunaan komputer/laptop.

o  Kesehatan

Sosialisasi kebiasaan menjaga kebersihan sehari-hari, sikat gigi, mandi, cuci tangan, antisipasi penyakit kulit (seperti kudis) dan ISPA. Untuk anak-anak, sosialisasi yang diberikan terkait kesehatan gigi dan kulit.

o  Budidaya Apotek Hidup

Sosialisasi budidaya apotek hidup, mulai dari mengenali tanaman obat yang ada di desa dan pemeliharaannya di lahan sendiri.

o  Manajemen Keuangan Desa

Sharing ilmu tentang pengelolaan keuangan desa, seperti analisa kebutuhan desa dan pengalokasian dana yang efektif.

o   Penelitian Sosio-Antropologis dan Penelitian Lingkungan

Melakukan pendataan masyarakat dari segi sosial, budaya, dan lingkungan. Pendataan ini juga termasuk mengumpulkan cerita-cerita tentang orang lokal yang membawa perubahan perilaku di desa.

Mata kita boleh berbeda bentuk, warna kulit kita boleh seperti kopi dan susu, rambut kita tak terlihat seperti kerabat, namun tulang kita tetap putih dan darah kita tetap merah*. Mari turut hadir di tengah masyarakat Pegunungan Bintang!

 

*Terinspirasi dari Khrisna Linarda, dikutip dari The Jakarta Post