Profil Pendaki Yamin

1. Agustian Maulana

Agustian Maulana adalah komandan operasi pada tim Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin. Dia adalah kepala yang menggerakkan bidang-bidang pendukung operasi untuk mencapai puncak Yamin.“Bergabung dalam tim karena ingin berekspedisi dan memberikan kebanggaan untuk organisasi, masyarakat luas, maupun pribadi.  Selain itu, ingin lebih mengaplikasikan apa yang didapat selama menjalani tahap program Anggota Muda Wanadri.”

2. Ichwan Supria N.

Ichwan merupakan komandan diklat pada Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin. Dia adalah roh dari kegiatan ekspedisi ini. Segala kebutuhan yang diperlukan dalam operasional, dipersiapkan olehnya melalui pendidikan dan latihan berkala. “Ketika ada kesempatan untuk menginjakkan kaki di Tanah Papua dan terutama Puncak Yamin, maka tidak boleh di sia-siakan. Puncak yang menurut informasi belum pernah ada orang yang sampai ke sana, apabila ekspedisi ini berhasil, tentu membuka ruang informasi untuk lebih mengenal Tanah Papua.”

 

 

3. Muhammad Raihan

Raihan semenjak kecil telah senang berkegiatan bersama regu kecilnya di kepanduan. Kegiatan di alam terbuka sudah menjadi rutinitas yang pada akhirnya membawa dia tergabung ke dalam tim pendaki Puncak Yamin. Raihan bertanggung jawab sebagai komandan logistik di dalam tim.

“Tintin, 5 Sekawan, Bona dan Rong-Rong telah mengantarkan Raihan kecil menyukai kisah-kisah petualangan hingga mengenal kisah-kisah penjelajahan ‘sungguhan’. Hal ini mengantarkan Raihan sekarang berada di Wanadri. Saya ingin terlibat dalam dunia petualangan dan penjelajahan. Berkesempatan untuk berkegiatan di tanah Papua tentunya tidak akan saya lewatkan demi kepentingan ilmu pengetahuan dan Tanah Air.”

 

4. Taufik Hidayat

Merupakan seorang relawan medis di Kota Bandung yang memiliki semangat untuk menjelajah Tanah Papua. Taufik Hidayat berperan sebagai Medis dalam tim “Menginjakkan kaki di salah satu puncak tertinggi yang belum terjamah adalah impian saya. Terlebih puncak tersebut berada di Bumi Cendrawasih. Tanah yang sebagian besar masih menjadi misteri untuk dunia luar.”ekspedisi Puncak Yamin. Medis merupakan bidang yang krusial dalam ekspedisi karena keselamatan tim adalah hal yang paling utama dalam perencanaan.

 

 

5. Wahyudi

Pemuda Semarang, yang meninggalkan keluarganya untuk mempersiapkan ekspedisi di Bandung, memiliki peranan sebagai Komandan Akomodasi. Kebutuhan makan dan tempat istirahat tim selama di Papua menjadi tanggung jawabnya. “Berkegiatan di alam terbuka seperti panjat tebing dan penjelajahan gunung hutan merupakan hobi dan kegiatan yang saya geluti. Dengan adanya Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin, saya berkesempatan untuk menjelajah Tanah Papua.”

 

 

 

6. Abimanyu

Abimanyu memiliki kecintaan dalam dunia fotografi. Hal ini yang menjadikan Abimanyu bergabung ke dalam tim Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin sebagai komandan dokumentasi.“Bicara soal Papua, Papua adalah tempat yang penuh rahasia. Tidak semua orang bisa untuk ke sana tanpa alasan tertentu yang benar-benar mendesak. Saya bergabung ke dalam tim Puncak Yamin karena daerah tersebut sama sekali belum tereksplorasi di mata dunia. Dengan datangnya kesempatan ini, saya ingin memberi informasi tentang Yamin itu sendiri melalui dokumentasi.”

 

7. Erwin Hermawanto

Erwin terbiasa melakukan aktivitas di alam terbuka. Dia juga aktif di beberapa komunitas yang berhubungan dengan kegiatan di alam terbuka. Dia bergabung menjadi salah satu pendaki pada Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin sebagai staf peralatan.

“Saya senang betualang, terlebih lagi ke daerah yang belum belum pernah terjamah. Puncak Yamin adalah tempat yang belum pernah terjamah oleh orang, karenanya saya sangat antusias untuk menjadi bagian dari tim Puncak Yamin.”

 

 

8. Hendro Kurniawan

Hendro Kurniawan merupakan salah satu pendaki dari tim Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin. Dia memangku jabatan sebagai Komandan Perbekalan. Tanggung jawab ini krusial untuk menentukan ketahanan fisik dan mental tim selama menjalani ekspedisi di lapangan.“Ekspedisi merupakan keinginan saya semenjak bergabung ke dalam Wanadri. Ekspedisi Puncak Yamin seakan menjawab mimpi saya untuk dapat menjelajah Tanah Papua.”

 

 

 

9. Zamridha A. Pase

Pemuda asli Makassar yang datang ke Bandung untuk berekspedisi ini memegang jabatan sebagai Komandan Transportasi. Segala kebutuhan transportasi, mulai dari Bandung, Papua, hingga pulang kembali ke Bandung merupakan tanggung jawabnya. “Aku ingin berdiri di puncak tertinggi ke-5 di Indonesia bersama saudara-saudaraku. Ekspedisi ini akan menjadi pencapaian yang sangat besar bagi diriku dan saudara-saudaraku.  Ekspedisi ini merupakan kegiatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan program pelatihan sebelumnya.

 

 

10. Junaedi

Pemuda asli  Kuningan ini mengorbankan waktu dan pikirannya untuk turut andil dalam menyukseskan kegiatan Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin. Dia memegang peranan sebagai Komandan Perizinan.“Ekspedisi ini merupakan kesempatan bagi saya dan tim untuk dapat mengharumkan nama angkatan Tapak Bara – Bara Rimba. Saya bersyukur di Wanadri mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki dan mengenal kehidupan masyarakat Papua.”

 

 

11. Luqman Rahmanul Hakim

Pemuda asli Tanah Sunda ini merupakan salah satu pendaki dari tim Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin. Ketelitian dalam melihat hal-hal kecil dapat diandalkan oleh operasi dan bidang-bidang lain. Dia memegang jabatan Kasir dalam tim.“Masih belum banyak data mengenai Papua yang diketahui oleh orang banyak. Tujuan utama dari ekspedisi ini adalah untuk membuka mata dunia terhadap Tanah Papua. Saya sungguh antusias untuk dapat bergabung menjadi bagian dari tim dan membagikan pengalaman yang nantinya saya miliki ke masyarakat luas.”

 

 

12. Mifachri Maulana Ramdhani

Berangkat dari pengalaman yang sedikit dalam berkegiatan di alam terbuka, pemuda ini terus berlatih untuk dapat menjadi bagian dari tim Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin. Dia merupakan sekretaris dari tim Puncak Yamin.“Proses pembelajaran tidak hanya kita dapatkan di dalam ruangan kelas, dalam keadaan yang nyaman, tetapi bisa kita dapatkan juga di alam terbuka. Lebih dari itu, alam terbuka mengajarkan kita tentang nilai-nilai kehidupan. Ekspedisi ini seakan menjadi kesempatan untuk saya dapat terus belajar. Selain itu, ini adalah salah satu bentuk kontribusi yang dapat saya berikan untuk Wanadri, juga Nusa dan Bangsa.”

 

 

13. Muhammad Miftahudin

Seorang pemuda Jawa yang memiliki keahlian dalam dunia panjat tebing, tergabung ke dalam tim Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin sebagai staf perbekalan. Pergerakan dan mobilitasnya yang tinggi tentu akan sangat membantu kegiatan operasional di Papua.“Untuk membuat sejarah bersama saudara-saudaraku seangkatan. Dari data informasi yang didapatkan, Puncak Yamin adalah salah satu puncak tertinggi di Indonesia yang belum pernah ada seseorang pun yang menginjakkan kaki di gunung tersebut.”

 

 

14. Muhaly

Muhaly adalah personel yang paling muda dalam tim Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin. Dia turut membantu kesuksesan ekspedisi dengan bergabung ke dalam staf komunikasi.“Kesempatan untuk turut mengambil posisi untuk berkontribusi dalam kegiatan ekspedisi ini tidak akan saya sia-siakan. Keberhasilan ekspedisi juga akan menjadi keberhasilan Angkatan Tapak Bara – Bara Rimba.”

 

 

15. Nizar Zulmi

 Nizar adalah salah satu pendaki dari tim Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin. Dia memiliki tanggung jawab sebagai Komandan Komunikasi. Dalam operasional, komunikasi harus selalu terjaga antara tim pendaki dan tim yang berada di desa terakhir.“Saya ingin berekspedisi, yang skala dan kerumitannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan yang pernah saya lakukan sebelumnya. Selain itu, saya senang bertualang, apalagi  ke daerah yang benar-benar jauh dari jangkauan orang-orang.”

 

 

16. Rifqi Rizqullah

Rifqi merupakan salah satu pendaki dari tim Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin. Dia adalah komandan peralatan yang mempersiapkan segala kebutuhan peralatan pribadi maupun tim. Segala pertimbangan operasi akan mempengaruhi peralatan apa saja yang perlu dipersiapkan. “Ekspedisi Pendakian Puncak Yamin merupakan ekspedisi yang tidak pernah terbayangkan oleh saya. Ini akan menjadi pengalaman pertama saya untuk dapat merasakan mendaki pada ketinggian di atas 4000 mdpl. Tentu akan ada banyak perbedaan dengan gunung-gunung yang sebelumnya saya pernah daki. Selain itu, saya juga tertarik dengan kehidupan masyarakat pedalaman Papua.”