Survival, Menyiapkan yang Terbaik untuk Kondisi Terburuk

Oleh: Dheayu Jihan Bias Khansa
(Relawan Pendaki Puncak Mandala dalam Festival Puncak Papua)

Belajar hidup di alam liar, tentu harus pula mempelajari bagaimana cara alam itu bekerja. Jika hendak bermain di lingkungannya, maka mengerti dan memahami segala antisipasi untuk setiap kondisi menjadi sebuah kewajiban. Ya, survival, atau teknik bertahan hidup di alam bebas dalam kondisi darurat atau di keadaan yang tidak diinginkan menjadi salah satu materi yang wajib dikuasai oleh seluruh calon penjelajah Mandala, puncak tertinggi kedua di jajaran Pegunungan Bintang, Papua Barat, yang tergabung dalam Festival Puncak Papua ini. Pada kesempatan pendidikan dan latihan pertama ini kami diajak untuk menjelajah tanah Ciwidey, Kabupaten Bandung, pada 17-20 Februari 2018 lalu.

“Mulai pagi ini survival kita buka..,” kata kang Aang memulai hari.

Kang Aang merupakan salah seorang calon pendaki Mandala yang juga merangkap sebagai isntruktur dalam materi survival kali ini. Padanya, kami belajar tentang bertahan hidup di alam bebas seperti membuat bivak atau tempat berlindung dengan memanfaatkan sumber daya setempat, hingga soal mengisi perut alias mengolah makanan.

Pagi itu kang Aang mulai membagi ceritanya, ilmu yang akan kita terapkan sepanjang di lapangan nanti. Ya, survival menjadi pilihan terakhir jika keadaan menjadi tidak sesuai dengan yang terprediksi. Mengingat Gunung Mandala dengan ketinggian 4.760 mdpl itu sangat jarang dikunjungi, maka setiap dari kami dipersiapkan untuk menguasai berbagai materi lapangan. Para pendaki harus dipersiapkan untuk siap dalam kondisi apapun. Dalam materi ini, prinsip yang digunakan ialah memanfaatkan sumber daya alam sekitar.

Para calon pendaki diajak untuk mengenal berbagai jenis tanaman yang dapat dikonsumsi berikut cara mengolahnya. Sepanjang pergerakan dari satu titik ke titik lainnya, setiap anggota tim harus ikut mengumpulkan bahan-bahan tersebut. Contoh tanaman yang dapat dikonsumsi diantaranya begonia, pakis, hingga jantung pisang. Tanaman-tanaman ini mudah ditemui di sepanjang jalur pergerakan.

“Dalam mengolah bahan makanan survival, prinsipnya harus ada minimal 5 jenis variasi bahan. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan racun terserap oleh tubuh kita. Kelima jenis ini akan saling menawar racun satu sama lain”, tegas kang Aang.

Hal ini tentu sangat menjadi perhatian kami, karena materi ini merupakan satu hal baru. Setiap jenis bahan makanan ini sendiri memiliki kandungan gizinya masing-masing, seperti protein, karbohidrat, hingga vitamin tertentu. Kami juga diajarkan bagaimana mengupas bahan-bahan tersebut, serta mengenal bagian mana saja yang dapat dikonsumsi. Selain itu, seluruh bahan makanan sebelum diolah harus melewati minimal dua kali proses perebusan untuk memastikan seluruh zat-zat tak baik yang tidak diinginkan agar larut dan mati.

“Kang, kalau ciri umum tanaman yang tidak dapat dikonsumsi biasanya apa saja?” tanyaku hendak memastikan.

“Ya baiknya hindari tanaman yang berbulu, warna tidak mencolok, tidak berduri, juga tidak bergetah.”

Lalu sepanjang hari itu kami pun menikmati serunya proses mengolah bahan makanan tersebut. Kami hanya dibekali dengan garam, kecap, juga bumbu dapur seperti cabai, bawang merah, dan bawang putih sebagai bahan dasar. Riang gembira rasanya mengupas hingga mencicipi nikmatnya tanaman-tanaman ini bersama dengan saudara-saudara baru. Keseruan ditutup dengan merayakan makan malam bersama menikmati menu survival yang telah dimasak bersama. Kami sepakat menamai menu makan kali ini dengan sebutan “Tumis Survival Bivak Tiga” yang rasanya boleh diadu.

“Nah gimana, kalo makan di kota masih mau pake menu makan kaya gini nggak?”, tutup bang Ade salah anggota tim kami menyemarakkan malam.

Malam itu tak hanya ilmu baru yang kami dapat, namun juga keakraban yang kian erat dari sepiring menu survival.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *